Gen Z Terbunuh Dalam Mental Kesepian

0
51

We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost pidato CEO Nokia Stephen Elop jangan sampai terjadi pada Generasi Z tumpuan masa depan kita.

Jakarta – Dunia kini berubah, industri lama terdisrupsi, kemapanan industri besar satu persatu rontok, terbunuh jika tidak berbenah. Kemajuan teknologi milenial tidak saja membunuh produk dan profesi, namun merubah pola hidup, karakter, jiwa manusia sebagai pelaku perlahan-lahan juga mengalami perubahan.

Journal of Abnormal Psychology, baru-baru ini merilis data yang cukup mengkhawatirkan lebih dari 600.000 orang di seluruh AS, para peneliti menemukan bahwa lebih banyak orang muda – terutama mereka yang berusia awal 20-an – generasi Z, mereka kehilangan minat dalam kegiatan hidup dan rekreasi, perasaan tertekan, letih, tidak berharga, atau bersalah. Orang-orang yang mengalami gejala ini seringkali juga tidak mendapatkan jumlah tidur yang tepat, sulit berkonsentrasi, dan mungkin sering memikirkan kematian.

Bahkan di Amerika selama satu dekade tarakhir, dalam setiap kelompok umur, profesi menunjukkan adanya kehilangan minat dalam hidup, kurang semangat mempelajari hal-hal baru. Data menunjukkan tingkat kematian bunuh diri melonjak naik 34 persen. Peningkatan tertinggi depresi terjadi pada anak rentang umur 12 hingga 25 tahun.

Kita mudah menemukan fenomena anak SD atau SMP bunuh diri karena di bully teman sekelas, atau putus pacar, bahkan ada yang membunuh orang tuanya karena tidak dibelikan barang yang diinginkan, atau memukul guru dan dijadikan bahan tertawaan. Perilaku kekosongan mental- menghargai dan menghormati orang lain semakin tipis.

Berbeda dengan Generasi X atau sering disebut Generasi Babeh Gue yang lamban dalam mempraktekkan kemajuan teknologi, Generasi Z adalah pelaku aktif. Kehidupan mereka dekat dengan teknologi dan tanpa sadar mereka mendapatkan tantangan ganda. Di dunia online seperti media sosial mereka dituntut eksis dan sempurna. Sementara di dunia offline, mereka kesulitan menjalin interaksi sosial yang positif dan berkualitas dengan keluarga dan teman-teman.

Kekhawatiran saat ini adalah di era disrupsi, masyarakat berlomba-lomba mencari cara mujarab untuk berbenah, bertarung dengan lawan-lawan baru yang tak terlihat atau sering disebut sebagai “anak haram” yang lahir tanpa mengikuti aturan hukum yang berlaku. Mereka sebagai penghasil inovasi, mendobrak dan membunuh cara lama.

Obat mujarab yang dihasilkan bukan saja menjawab tuntutan dari beberapa profesi yang hilang, dan bukan saja menjawab perlunya sekrup-sekrup baru sebagai hasil baru dunia pendidikan yang diperlukan pasar, dengan membuat beragam pendidikan vokasi. Atau membuat satu wilayah, kampung milenial, ramah terhadap segala produk digital.

Kekhawatiran terbesar seharusnya ditumpukan kepada pelaku, manusia yang menjadi tulang punggung utama warisan generasi kedepan tepatnya kesadaran moral sebagai pengisi dari jiwa manusia. Meminjam istilah Drijakara, diperlukan kesadaran moral yakni kesadaran tentang diri kita sendiri, di dalam mana kita melihat diri kita sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk.

Generasi yang saat ini berperan- berkuasa harus meninggalkan warisan pondasi kesadaran yang mampu berkehendak, bertindak membedakan mana yang boleh dan tidak dilakukan. Sebab dalam dunia hewan tidak ada soal tentang mana yang patut dan tidak patut dilakukan. (rhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here