Lies Agustine Perempuan Kuat dan Mandiri dalam Bisnis “Gurita” Dirgantara

0
65
Leis. A. Wisojodharmo, Perekayasa Utama,BPPT

Tertawaan tak menyurutkan kepercayaan Lies Agustine Wisojodharmo bahwa negeri ini mampu menciptakan ban pesawat komersial, cukup sudah ketergantungan atas impor, saatnya jaya dirgantara Indonesia.

Jakarta – Siang itu saya bertemu dengan Ibu Lies Agustine Wisojodharmo, Perekayasa Utama Pusat Teknologi Material, Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Keresahan yang sama mempertemukan kami terkait kemajuan industri ban pesawat terbang komersial Indonesia.

Bagaimana tidak, selama Republik ini berdiri dengan kekayaan alam pemasok karet alam terbesar kedua di dunia dimana setiap tahun produksi karet alam Indonesia mencapai 3,5 juta ton. 0,66 juta ton di antaranya dimanfaatkan untuk industri dalam negeri, sementara 2,84 juta ton atau sekitar 80 persen lainnya di ekspor ke mancanegara dalam kondisi raw material atau mentah.

Negeri ini belum mampu berdiri sendiri untuk memproduksi ban pesawat komersil. Bahkan, mirisnya untuk ban vulkanisir saja juga tidak sanggup. Jika ingin vulkanisir harus dibawa ke Thailand atau Hong Kong sebagai negara terdekat.

Usianya sudah setengah abad lebih, tetapi ketika berbicara masalah ini, semangat meneliti tak kunjung padam, terus menyala untuk menyumbangkan terciptanya industri ban pesawat komersial nasional.

Bahkan, penelitian ini dianggap kurang populer saat itu di tahun 2014. Tak jarang tawaan rekan sejawat diterima, semua ditanggapi dengan positif, sebagai pelecut untuk terus mewujudkan kemandirian.

Konsistensi lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung ini atas riset ban pesawat, mulai menemukan titik cerah dengan tercipatnya formulasi kompon ban pesawat, hingga setelah tiga tahun bergelut akhirnya di Tahun 2017 berhasil membuat ban pesawat tipe Twin Otter. Dan Selanjutnya, pada 2018, telah dilaksanakan tahapan proses sertifikasi. Tahun 2019 ditargetkan mampu memproduksi.

Meski demikian, hasil yang didapat tersebut tidak mudah dicapai. Dari keterbasasan dana, kesulitan mencari ban pesawat, hingga mencari tempat pembuangan-sampah, ban pesawat Garuda tetap dilakoni. Tak terkecuali kegagalan demi kegagalan dalam menemukan formula kompon karet, dan test kualitas sertifikasi ban.

Perlu diketahui untuk sertifikasi ban pesawat, mendapatkan perlakuan ketat diawasi oleh lembaga nasional seperti DKKUPPU (Direktorat Kelaik-Udara-an dan Pengoperasian Pesawat Udara) serta lembaga internasional seperti FAA (Federal Aviaton Administration) dan setiap produk juga harus memenuhi DOA (Design Organisation Approval). Hanya 5 perusahaan Indonesia yang memiliki DOA sebut saja diantaranya; GMF Aeroasia, Lion Air, dan PT.DI (Dirgantara Indonesia).

Terkait hal ini Lies, masih mengalami kendala uji sertifikasi dinamis yang alatnya saja tidak dimiliki Indonesia. Halangan bertambah dengan dana uji juga belum didapatkan. Patah arang bukan jalan keluar.

Langkah out of the box, dengan adanya tawaran dari Iran membantu untuk melakukan uji dinegaranya serta menjamin akan membeli produk yang akan dibuat, meski negara tersebut dalam status embargo Amerika dan tentu keberhasilan sertifikasi tidak akan diterima pasar yang saat ini tercengkram dengan regulasi internasional penerbangan dunia. Membuatnya sebagai pilihan yang patut dipertimbangkan.

Kini harapan Lies menemukan keberhasilan retread untuk pesawat Twin Otter dan pesawat Cesna akan segera terwujud di tahun 2019. Namun, jalan terjal belumlah selesai. Mengingat pemain besar, raksasa ban dunia yang mapan tentu saja “terus memperhatikan” kemajuan pengembangan ban vulkanisir khusus pesawat terbang ciptaan Lies.

Sebab, bukan perkara mudah ban yang diciptakan tentu harus mendapatkan kepercayaan asuransi pesawat dunia, dan asuransi pesawat saat ini mempercayai pemain besar, produsen ban dunia.

Lantas apakah, menyurutkan langkah Lies. Jawabnya, tidak. Banyak tantangan ia, tetap harus terus maju, setahap demi setahap.Jawaban keperkasaan, dan keibuan. Terus melangkah dan yakin akan keberhasilan. Jika saja para peneliti bangsa memiliki sifat seperti Lies kemandirian teknologi dirgantara Indonesia kian mendunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here