Proses Riset di Indonesia Kurang Mendalam dan Rendah

0
68
I Gede Wenten, Guru Besar dan Peneliti dari Institute Teknologi Bandung (ITB)

Jakarta – Dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi kerap menyinggung soal bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat diterapkan untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat. Hilirisasi riset menjadi perhatian pemerintah khususnya juga untuk meningkatkan daya saing produk nasional lewat inovasi dan industrialisasi.

Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sendiri selama periode 2016 hingga 2019 terus meningkatkan dana untuk riset dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Pada tahun 2016, anggaran riset mencapai Rp 24 triliun, tapi tiga tahun kemudian meningkat menjadi Rp 35,7 triliun. Namun faktanya, outputnya sejauh ini masih sangat kecil di sektor riil.

“Hasil riset kita di Indonesia sekarang ini umumnya tidak mempunyai added value yg tinggi dan sudah tentu, karenanya, tidak kompetitif,” ungkap I Gede Wenten, Guru Besar dan Peneliti dari Institute Teknologi Bandung (ITB).

Menurutnya hasil riset seperti itu bukan hanya sulit untuk dikomersialkan, juga tidak mempunyai kontribusi keilmuan yang signifikan untuk dipublikasikan. “Added value yg tinggi biasanya di create dengan dukungan keilmuan yang kuat dan proses riset yg mendalam, deep in science,” terang Wenten.

Menurut Wenten, jika ingin mengkomersialisasi hasil riset, supaya biaya risetnya akan jauh lebih murah dan efisien, maka dapat dilakukan langsung di Industri. “Juga akan lebih terarah. Bahkan komersialisasinya bisa langsung tanpa proses macam-macam,” ungkapnya. “Itu lebih masuk akal. Paling tidak, itu yg saya lakukan selama ini,” tambahnya.

Situasi sekarang ini, masih menurut Wenten, kebanyakan pelaku riset kita adalah kalangan akademisi yang jauh dari industri. Sementara, kualitas hasil risetnya masih rendah. “Riset di Universitas haruslah mampu menghasilkan invensi dengan added value yang tinggi. Kalo tidak, lebih baik risetnya dilakukan di industri. Akademisi jadi ahli atau sumber ilmunya saja,”
terangnya.

Namun tegasnya, hal tersebut bukan berarti bahwa riset di industri tidak bisa menghasilkan added value yang tinggi. “Banyak industri di luar negeri yang risetnya sangat deep in science, bahkan ada yg lebih maju dibanding riset universitas,” jelasnya.

Wenten berpendapat jika standardisasi seharusnya membantu dalam proses hilirisasi, namun menurutnya perlu diminimalisir kendala-kendala yang bersifat administratif. Namun ditegaskannya bahwa standar dapat menjamin proses inovasi ke masyarakat.

Terkait inovasi, Wenten menyayangkan manajemen inovasi nasional yang ada selama ini hanya sebatas euphoria saja. Fakta yang ia lihat selama ini, pihak peneliti sering mengeluhkan proses komersialisasi yang sulit. Sementara, pihak industri berkata sebaliknya.

Menurut Wenten Tiongkok dapat dijadikan role model untuk hilirisasi riset. Infrastruktur industrinya sangat lengka dan ebijakannya juga sangat progresif. “Ada juga beberapa negara lain yang bagus unttk ditiru seperti Thailand dan juga pendatang baru, Vietnam,” tambahnya.

“China dengan program 100 and 1000 Talent nya. Thailand dengan Agricultural Economics nya. Vietnam dengan Doi Moi Reform nya. Dan bangsa-bangsa Asia Timur dengan Gerschenkron’s Patterns of Industrialization nya,” tambahnya lagi.

Maka dari itu menurut Wenten, Indonesia harus mencetak banyak peneliti tangguh dan menumbuhkan budaya ilmiah unggul. “Itu jauh lebih penting dibanding uruasan fasilitas dan dana sekalipun,” tegasnya