Riset Tanpa Standar Bakal Sia-Sia

0
38
Kepala Badan Standarisasi Nasional Bambang Prasetya

Jakarta – Riset ada kaitannya dengan inovasi, mencari masalah atau mencari sesuatu yang baru untuk sebuah produk atau proses metodologi. Sebenarnya tujuan utama riset adalah satu, mengembangkan produk dengan menggunakan keilmuan.

Setelah dilakukan riset dan layak maka selanjutnya di publish. Setelah publish maka keluarlah paten. Tujuannya agar sebuah produk atau karya tidak di tiru atau di copy. Demikian dikatakan Kepala Badan Standarisasi Nasional Bambang Prasetya.

Tak sampai di paten saja, untuk membuat sebuah produk tersebut layak edar dan bersaing di pasaran, maka perlu standardisasi.

“Kalau sudah itu dipublikasikan ke Jurnal. Nah itu yang dinamakan hilirisasi dengan standarisasi dan HKI, dan ini sangat penting. Karena biasanya hanya dipatenkan saja tidak di standarkan, sehingga ketika masuk ke pasar orang akan bertanya sudah memenuhi standar atau belum,” ungkap Bambang Prasetya di Kantornya.

Riset dan standar ini sangat diperlukan untuk peningkatan daya saing nasional dan untuk mendapatkan added value ekonomi yang tinggi harus memainkan dua hal tersebut yaitu mutu dan efisiensi. “Kalau sudah bicara persaingan di pasar itu mainnya di standarisasi. Karena harga murah juga belum tentu direspon oleh pasar, jadi murah itu tergantung pasar dan standar,” terangnya.

“Seperti gypsum, di situ ada inovasi, bagaimana mencampur antara semen dengan serat, ternyata berat, cari yang lain, batu apung ketemu fiber kuat, ini tahan api. Dan itu sebagai pengganti bata merah.

Ada juga sebagai pengganti bata merah ada bahan yang terbuat dari fiber dan semen menjadi bata putih yang ringan dan tahan api, ini bagian dari riset juga. Dan ternyata produknya cukup laris,” terangnya.

Lalu bagaimana peran standarisasi dalam hilirisasi riset? Bambang menjelaskan, peran standarisasi dalam industri yang pertama adalah bagaimana memasarkan dan yang kedua bagaimana memproduksi secara besar.

Hilirisasi menurutnya memang sangat penting, namun yang sering dilupakan orang adalah standar. Ketika sudah membuat satu produk bingung tidak bisa masuk ke pasar, karena speknya tidak masuk.

“Level berikutnya adalah spek sudah masuk, bisa diterima pasar tapi harga masih mahal, nah oleh karena itu kita dorong, ada produk baru, ada produk improvement, ada proses baru ada proses improvement biasanya kalau sudah proses improvement masyarakat sudah mengenal, kalau ada produk baru biaya lebih murah akhirnya kompetitif,” terang Bambang.

Bambang kembali menjelaskan, riset didalam negeri dan luar negeri memiliki perbedaan, di luar negeri menurutnya riset mengeluarkan anggaran yang cukup besar, bahkan bisa menghasilkan start up. Indonesia menurutnya kebanyakan berbasis Informasi Teknologi (IT).

Bambang pun bercerita, pernah ia mendatangi satu negara yang sudah melahirkan peneliti dari sebuah perguruan tinggi, dia membuat usaha start up dibidang engineering yang membuat satu mesin, dan sukses karena digunakan oleh Mitsubishi.

“Jadi ini start up berlatar dari salah seorang alumni yang riset disana, sebenarnya tidak harus alumni tapi siapapun boleh, nah ini bidangnya macam macam yang banyak alatnya, tetapi ada juga dari ide ke market ada juga dari ide langsung ke profit hanya memberikan ide saja orang sudah bisa mendapatkan royalti, karyawannya ada 20 orang,” paparnya lagi.

Indonesia menurut Bambang perlu banyak ditata, mulai dari latar pendidikannya, talentanya, pasarnya atau standardisasinya.

Sebagai kepala BSN, Bambang pun pernah melakukan riset, dia menceritakan dia memanfaatkan kesenanganya terhadap tumbuh-tumbuhan, dengam memanfaatkan limbah serat kayu yang dimanfaatkan menjadi produk kertas, dan itu penelitian saat saat mengambil program S1.

“Saat S2, membuat bubur kertas Bio teknologi menggunakan mikroba, saya namakan Bio bathing, bagaiamana warna kertas dari buram menjadi putih tidak menggunakan cloring. Kemudian ada limbahnya, saya teliti untuk menjadi lem-lemnya agar bisa dipakai untuk industri perkayuan,” ceritanya.

Kemudian yang terakhir Bambang membuat aspal organik dari tumbuh-tumbuhan limbah minyak pertamina. Kedua bahan itu dicampurkan dengan logam berat. Penelitian ini dilakukan secara sederhana di Balikpapan. “Uji coba itu saya serahkan ke pertamina, dan saya menangani proyek disana selama 4 bulan, terus dimonitor selama 1 tahun sebelum masuk BSN,” paparnya.

Diakhir perbincangan, Bambang menegaskan, sebuah riset jika tidak didukung dengan standar makan bakal sia-sia dan standar ini sering dilupakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here