Impor Tidak Wajar, Asosiasi Baja Dorong Industri Tingkatkan Daya Saing

0
39

Jakarta – Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menilai, impor baja saat ini sudah tidak wajar dan terlampau besar .

“Sebenarnya yang diimpor itu yang bisa diproduksi di dalam negeri, kualifikasi  kita mencapai 50% – 60%,  jadi kita sebenarnya siap bersaing kalau fair,” ungkap Direktur Eksekutif IISIA Yerry Idroes di Jakarta.

Menurutnya yang tidak wajar adalah kuantiti dan harganya yang membuat produk baja lokal menjadi kalah bersaing. “Kita sudah sampaikan ke pemerintah melalui surat, mudah-mudahan tahun ini ada kebijakan yang memang efektif untuk itu,” terangnya kepada SNI Valuasi.

IISIA juga meminta kepada Kementerian Perindustrian sebuah bentuk perlindungan, karena menurutnya sangat mudah masuk impor baja dari luar.

Impor baja pada 2018 dari data IISIA berkisar 7,7 juta ton. Jumlah tersebut mencakup 55% dari konsumsi baja nasional pada 2018 sebesar 14,2 juta ton.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2017 dengan impor sebanyak 7,1 juta ton atau 52% dari konsumsi 13,6 juta ton. Adapun, pada 2016 impor baja sebanyak 6,9 juta ton atau 54% dari konsumsi 12,7 juta ton.

Saat ditanya tentang kualitas baja lokal dan impor, Yerry menuturkan, jika Indonesia memiliki standarisasi tertentu, dan itu yang diperlukan diperlukan, harus ada jaminan barang beredar di dalam negeri jadi semua pemain memiliki kesepakatan dan standarnya harus diikuti.

Yerry pun yakin jika produk lokal sangat bisa bersaing dengan impor, dan semua itu menurutnya tergantung pada kebijakan pemerintah, karena setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda.

“Memang kembali lagi bahwa perlu bersaing sehat, dalam bersaing juga kita perlu didukung oleh pemerintah, bukan industri saja,” terangnya.

IISIA juga memiliki tantangan dalam menjalankan industri baja, salah satu diantaranya adalah harus meningkatkan produktivitas dan kapasitas. “Yang tadi itu ya, meningkatkan daya saing, dengan pemerintah harus saling mendukung,” tambahnya.

Selanjutnya menurutnya untuk meningkatkan daya saing standarisasi sangat diperlukan. “Setiap orang itu bisa bermain di Quality seperti contohnya kan sulit melihat ketebalan dari 0,17 dan 0,5 mm, siapa yang bisa melihat gitu jadi makanya dari standarisasi harus dicek, dari situ bisa terlihat,” terangnya.

Intinya menurut dia, untuk menjamin persaingan yang sehat, standardisasi itu sangat penting, agar industri ini bisa terus berkembang. “Kalau tidak ada standardisasi kita mau mengacu kemana harus ada acuannya, Indonesia harus seperti itu, Thailand saja punya standar,” tambahnya.

Berbicara tentang Standar Nasional Indonesia (SNI), Yerry mengatakan jika itu faktor teknis dan kemampuan dari pabrik, SNI yang dibuat harus mengacu pada kemampuan teknis dan kemampuan pabrik. “Jika ada kepastian itu orang pasti mau mengembangkannya,” tegasnya.

Bagi IISIA, SNI wajib atau tidak itu tergantung dari pemerintah, jika dikatakan wajib itu harus ada yang mengontrol. “Kalau kita terus mendorong yang belum punya SNI itu wajib. Intinya bagi industri SNI menjadi kewajiban, karena itu menjamin persaingan yang sehat. Saat ini baru 30% dari anggota yang sudah ber SNI, kita dorong terus, ” tambahnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here