Krakatau Steel Pacu Peningkatan Kapasitas dan Pemenuhan Standar di Industri Baja Nasional

0
90
Penyalaan Api di Pabrik Blast Funace, KS oleh Presiden SBY

Jakarta – Dalam kurun waktu dua tahun terakhir , PT Krakatau Steel mengalami pertumbuhan, dengan mitra strategis melalui pembentukan Perusahaan Patungan (Joint Venture Company), yaitu  PT Krakatau Osaka Steel yang memproduksi Baja tulangan dan Baja Profil   dengan kapasitas 0,5 juta ton per tahun yang mulai beroperasi pada Januari 2017.

Sementara itu  PT Krakatau Nippon Steel Sumikin yang memproduksi baja galvanis dan baja galvaneal untuk kebutuhan sektor otomotif dengan kapasitas 0,5 juta  ton per tahun yang mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2017.

“Perusahaan juga telah memulai pembangunan pabrik Hot Strip Mill  2 (HSM#2) pada tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada Semester I 2019 ini. Dengan selesainya pembangunan ini, Perusahaan akan menambah kapasitas produksi Hot Rolled Coil (HRC) sebesar 1,5 juta ton per tahun,” papar Silmy Karim, Direktur Utama Karakatau Steel kepada SNI Valuasi di kantornya.

Menurut Silmy, penyelesaian pembangunan pabrik HSM#2 akan meningkatkan kapasitas fasilitas pengerolan baja Perusahaan dari semula 3,15 juta ton per tahun (HSM 2,4 juta ton. WRM 0,45 juta ton, Bar Mill 0,15 ton dan Section Mill 0,15 juta ton) menjadi 4,65 juta ton/ per tahun.

Kapasitas pengerolan ini belum termasuk kapasitas yang dimiliki oleh Perusahaan Patungan yaitu PT. Krakatau Posco dengan kapasitas pengerolan 1,5 juta ton per tahun dan PT Krakatau Osaka Steel sebesar 0,5 juta ton per tahun.

Dalam kurun 5 tahun terakhir, PT Krakatau Steel melakukan upaya peningkatan kapasitas melalui Perusahaan Patungan bekerjasama dengan mitra strategis. Pada tahun 2014, peningkatan kapasitas Perusahaan berasal dari PT Krakatau Posco yang memproduksi Steel Plate 1,5 juta ton/ tahun.

Pada tahun 2017, terdapat peningkatan kapasitas yang berasal dari PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (PT KNSS) dan PT Krakatau Osakan Steel (PT KOS). PT KNSS memproduksi CR GI-GA dengan kapasitas 0,5 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar otomotif dosmetik, sedangkan PT KOS memproduksi Rebar & Section dengan kapasitas 0,5 juta ton/tahun untuk mendukung kebutuhan baja bagi proyek-proyek infrastruktur nasional.

“Pada tahun 2019 ini, kami akan mendapatkan tambahan kapasitas produksi HRC sebesar 15 juta ton per tahun setelah selesainya proyek HSM#2,” tambah Silmy.

Dia menambahkan, saat ini, PT Krakatau Steel sudah memiliki dua lini produksi yaitu lini produk baja lembaran yang menghasilkan produk akhir Baja Canai Panas (Hot Rolled/HR)  dan Baja Canai Dingin (Cold Rolled CR). “Sedangkan lini produk Baja Lembaran menghasilkan Baja Batang Kawat (Wire Rodl WR), Baja Tulangan (Rebar), dan Baja Profit (Section).

“Jumlah SDM Perusahaan sampai dengan Desember 2018 4.138 karyawan, ditambah dengan SDM pada anak perusahaan sebanyak 2.930 karyawan,” tambahnya.

Sampai dengan Kuartal III 2018, Krakatau Steel menjadi penguasa pasar untuk produk HRC dengan pangsa pasar sebesar 40%. Sedangkan untuk produk CRC, Perusahaan merupakan pemasok terbesar dosmetik dengan pangsa pasar sebesar 24% sampai dengan tri wulan II tahun 2018.

Tantangan yang dihadapi oleh PT KS dalam menjaga dan meningkatkan  pangsa pasar dosmetik adalah masuknya produk baja impor dalam jumlah yang cukup besar terutama dari Tiongkok. “Ini ditambah dengan adanya kebijakan peningkatan tarif baja impor yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap Tiongkok, sehingga Indonesia menjadi salah satu pengalihan tujuan ekspor,” terangnya.

Sesuai dengan Misi Perusahaan, KS berkomitmen untuk menyediakan produk baja bermutu, “Kami selalu berkomitmen untuk menghasilkan produk baja yang memenuhi persyaratan pelanggan dan standar kualitas nasional (SNI) maupun internasional,” tambahnya.

Krakatau Steel  juga terlibat secara aktif bersama asosiasi industri besi baja nasional Indonesia, Iron and Steel Industry Association(IISIA) dalam menyusun persyaratan pelanggan dan standar kualitas nasional (SNI) maupun internasional.

Silmy juga menanggapi tentang penerapan SNI terhadap produk baja lokal. “Dengan penerapan dan sertifikasi SNI akan memberikan jaminan mutu produk pada konsumen di pasar. Perusahaan akan terus berusaha memperbaiki hasil produksi dan meningkatkan kinerjanya,” tambahnya.

Dengan  penerapan SNI wajib akan memberi dampak yang signifikan khususnya bagi internal perusahaan. Karena perusahaan dituntut untuk selalu menghasilkan produk dengan kualitas yang baik dan konsisten, sehingga konsumen tidak perlu  meragukan kualitas produk yang dihasilkan PT KS,” paparnya.

Dampak eksternal dengan penerapan SNI dapat melindung industri baja dalam negeri dari serbuan produk impor atau maraknya peredaran produk illegal yang memiliki kualitas rendah. “Baja impor yang memasuki Indonesia wajib memenuhi tentuan SNI dengan dibuktikan memiliki SPPT SNI (Sertifikat Produk Penggunaan Tanda- Standar Nasional Indonesia), bila tidak maka akan direekspor atau dimusnahkan,” tegasnya.

Silmy pun menjelaskan target PT Krakatau Steel Group di tahun 2019, diantaranya  meningkatkan volume penjualan dengan penyelesaian proyek pembangunan HSM#2 berkapasitas  1,5 juta ton per  tahun.

“Perusahaan juga menargetkan efesiensi biaya produksi  melalui pengoperasian pabrik Blast Furnace yang memproduksi hot metal 1,2 juta ton per tahun sebagai bahan baku Pabrik Slab. Dengan target diatas ,diharapkan kinerja Perusahaan akan mengalami peningkatan yang  cukup signifikan,” tutupnya.