Belajar Dari Sungai Cikambuy, Modus Pabrik Membuang Limbah

0
33

Jakarta – Citarum Harum, mulai berbenah. Tahun 2013 Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute menempatkan Sungai Citarum di peringkat ke tiga sebagai tempat paling tercemar di dunia. Padahal sungai ini menjadi sumber air mulai dari lereng Gunung Wayang, Bandung Tenggara hingga Karawang di pantai utara Jawa, tepatnya melintasi 3000 kilometer.

Berdasarkan riset World Wide Fund for Nature, Sungai di Indonesia kondisinya tercemar dan kritis mencapai 82 persen dari 550 sungai. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan 75 persen air sungai di Indonesia sudah tercemar berat khususnya oleh limbah domestik

Selain limbah domestik, pelaku praktek nakal industri membuang limbah beracun ke sungai juga menjadi momok yang terus saja berlanjut. Terakhir yang mendapat perhatian publik adalah pencemaran Sungai Cileungsi yang dilakukan 54 pelaku usaha membuang limbahnya langsung ke sungai tersebut. Baru saja dikenakan sanksi ringan dengan denda 15 juta, kini penggiat lingkungan hidup bersama dinas terkait kembali menemukan saluran pembuangan limbah.

Dwi Sawung, Manajer Kampanye Perkotaan, Tambang dan Energi Walhi menyatakan, dalam praktik lapang beragam cara dilakukan perusahaan untuk membuang limbah ke sungai. Misalnya saja dari 13 kasus perusahaan nakal pelaku pencemaran Sungai Cikambuy, Kabupaten Serang, Banten di tahun 2016, melakukan dengan cara; Pertama, mengelabuhi dokumen lingkukan dan izin lingkungan, menyatakan tidak membuang air limbah, prakteknya membuang limbah.

Kedua. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak berfungsi. Punya IPAL tapi tidak digunakan. Ketiga. Air limbah yang dikeluarkan sesuai dokumen bekerjasama dengan pihak ketiga, praktiknya tidak dilakukan. Keempat. Air limbah melebihi Baku Mutu Air Limbah (BMAL).

Lantas apakah sudah berubah. Dalam catatan media di periode Desember 2017, masih saja terdapat gugatan warga terhadap pencemaran industri. Di periode Agustus 2018 juga tidak terdapat perubahan, kondisi sungai hitam dan berbau.

Laporan lebih lanjut didapatkan empat sungai besar di Banten masih bisa dikonsumsi dengan syarat melakukan treatment dan perawatan yaitu Sungai Ciujung, Cisadane, Cimanceri dan Cirarab. Sedangkan satu sungai yang dinyatakan berbahaya dan tidak bisa ditreatment atau perbaikan adalah Cidurian.

Pertanyaannya adalah apakah kita masih dapat memberikan air sungai yang bersih untuk generasi ke depan ?

Praktik nakal yang ditemukan Walhi tentu sudah menjadi modus yang umum diketahui oleh aparat berwenang. Jangan bercerita dan berjanji kemegahan menuju industri 4.0, jika industri tidak segera berbenah menjadikan lingkungan, sungai bagian dari warisan yang perlu kita jaga bersama. Saatnya bertindak tegas dan keras.

Sungai Cikambuy dapat dijadikan contoh, Sungai Cidurian kini tinggal kenangan air bersihnya hanya jadi bahan cerita kakek diselang tidur. Air hitam, bau tak sedap yang jadi warisan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here