Said Didu Tantang Ahok, Tagih Piutang Pertamina ke Pemerintah Rp70 Triliun

0
74

Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu meminta Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina Persero Tbk agar tak hanya diberi tugas yang mudah seperti penerapan B30 yang biasa dikerjakan oleh seorang kepala Divisi.

“Kalau Ahok diberi tugas disuruh bereskan B30, itu (B30) tugasnya kepala divisi. Dia kan katanya orang hebat, orang hebat harusnya kasih kerjaan yang berat,” ujar Said dalam diskusi bertajuk ‘Pertamina Sumber Kekacauan’ di Jakarta, Kamis (19/12).

Mantan Staf Ahli Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) itupun menyarankan Ahok itu diberikan setidaknya 4 tugas berat. Salah satunya mendatangi Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk menagih utang negara terhadap perseroan.

” Tugas Ahok? datang ke Senayan dan Presiden untuk bilang, jangan lagi tugaskan Pertamina untuk hal yang bisa merugikan Pertamina,” katanya.

Selanjutnya, Said juga meminta Ahok datang menemui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Sebab menurutnya, Ahok harus berani bersikap tegas ke Luhut untuk berhenti mengintervensi investasi yang akan masuk ke Pertamina, salah satunya untuk pembangunan kilang.

Kemudian, sambungnya, Ahok juga perlu menemui Menteri ESDM Arifin Tasrif soal mekanisme pelelangan blok Migas. Menurut Said, dahulu Pertamina diberikan secara cuma-cuma untuk mengelola suatu Blok Migas yang telah habis masa kontraknya dengan harga yang mahal.

“Keempat, datang ke Menteri Keuangan Sri Mulyani, datanglah dan bilang hey bayar utang kau yang Rp70 triliun ke Pertamina. Itu tugas Ahok. Dia kan orang hebat, kasih dong tugas yang berat itu. Kalau B30 itu kerjaan ecek-ecek,” tegasnya.

Sebelumnya, Said  merasa heran dengan pernyataan Luhut Binsar Panjaitan yang menyebutkan bahwa Pertamina sebagai sumber kekacauan. Padahal nyatanya dividen BUMN terbesar dari perusahaan minyak dan gas pelat merah tersebut. Menurutnya, Pertamina justru menjadi tempat menyembunyikan kekacauan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara meminta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk mengklarifikasi pernyataannya yang menyebut Pertamina sebagai sumber kekacauan.

“Saya kira Pak Luhut, perlu memberi klarifikasi maksud dari pernyataannya itu,” katanya

Marwan menuturkan sejatinya ia bisa saja mendukung pernyataan Luhut, namun ia mengaku tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Oleh karena itu, ia tetap meminta Luhut menjelaskan maksud pernyataannya. Sebab menurut Marwan, sebagai pejabat resmi pemerintah maka pernyataan Luhut itu tidak main-main.

“Ada tidak pak Luhut berfikir bahwa pernyataan itu berpengaruh terhadap bisnis Pertamina, Kalau dibilang kacau bisa saja akhirnya tidak diminati oleh investor, padahal Pertamina itu BUMN yang obligasinya sangat banyak puluhan miliar,” terangnya.

Marwan menegaskan, ia tidak mau pernyataan Luhut Binsar Panjaitan itu dilatarbelakangi atas alasan dipilihnya Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina. Sehingga, Luhut Binsar Panjaitan sampai melontarkan pernyataan bahwa Holding BUMN Minyak dan Gas (Migas) itu sebagai sumber kekacauan.

“Karena kalau bicara Ahok itu tidak pantas untuk menjadi komisaris utama. Bahkan Ahok lebih pantas untuk diadili bukan diberikan jabatan sebagai komisaris utama!,” ujarnya.

Ahok resmi ditunjuk menjadi Komisaris Utama Pertamina menggantikan Tanri Abeng. Ahok diminta ikut terlibat memperbaiki kinerja Pertamina yang selama ini dianggap kurang moncer.

Sebelumnya Ahok berjanji akan membawa perusahaan migas pelat merah itu menjadi perusahaan minyak kelas dunia. Hal itu diungkapkan Ahok melalui akun instagramnya @basukibtp pada Selasa, 10 Desember 2019 yang bertepatan dengan hari ulang tahun Pertamina ke-62.

Menurut Ahok, untuk mencapai tujuan itu perlu kerja sama dan kekompakan dari semua pihak. “Saya yakin dengan kekompakan serta kerja sama kita semua serta ridho Tuhan bisa membawa Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia,” kata dia melalui akun Instagram @basukibtp, Selasa, 10 Desember 2019.

Perjalanan Pertamina sebagai pengelola energi nasional ke depan tidaklah mudah karena tantangan bisnis semakin dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga, menurut Ahok, guna mencapai tujuan tersebut, ia mengajak kepada seluruh jajaran Pertamina untuk mengubah pandangan mereka. Hambatan akan menjadi peluang dan pengingat untuk dapat terus bekerja sama dengan baik.

“Tantangan ke depan pasti banyak, tapi mari kita memandang tantangan ini sebagai bagian dari peluang dan menjadi pengingat bahwa kita perlu bekerja sama dengan baik,” tandas Ahok.