Menjadi Future Company Lewat Pengembangan SDM

0
21
Joko Sutopo, Plant Director Pabrik Pintar Cikarang Schneider Electric Indonesia

Cikarang – Berbicara mengenai  pengembangan SDM didalam perusahaan semakin hari terutama seiring dengan mengglobalnya persaingan saat ini maka hal tersebut seharusnya menjadi urgensi tersendiri. Khususnya bagi industri manufaktur, konstruksi, maupun engineering  dimana kompetensi SDM menjadi asset penting untuk senantiasa terus ditingkatkan mutunya. Selain SDM menjadi faktor penentu operational excellence demi terciptanya kepuasan pelanggan, hal ini sekaligus menjadi dukungan industri terhadap daya saing SDM tanah air di era persaingan global khususnya MEA.

Salah satu industri dibidang produk dan jasa kelistrikan, PT.Schneider Electric Indonesia (Plant Cikarang) mengintegrasikan program pengembangan SDM secara komprehensif dan terbukti bahwa hal tersebut sangat strategis. “Pertama-tama kualitas SDM teramat penting bagi perusahaan, karena tanpa itu kita juga akan susah untuk bersaing,” ucap Joko Sutopo selaku Plant Director PT. Schneider Electric Indonesia kepada The Quality di Cikarang. “Bukan hanya untuk bersaing tetapi juga untuk terus tumbuh,” tambahnya.

Perusahaan juga sekaligus menyadari bahwa tuntutan dari pelanggan tentang kecepatan dan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan selama ini hanya dapat terpenuhi oleh karena adanya SDM yang mampu inline dengan inovasi yang dilakukan perusahaan dan skill yang terus berkembang. Kondisi tersebut menjadi lebih urgen lagi ketika perusahaan memiliki fokus untuk ekspor. Semenjak tahun 2008, Schneider sendiri sudah mencanangkan untuk menjadi regional dan global player.  Maka dari itu persiapan SDM sudah dimulai dari tahun 2008. Semboyan Great People Makes Schneider Electric Great Company yang telah ditetapkan perusahaan menjadi diferensiasi culture dengan perusahaan lain.

Future Employees

Pengembangan SDM juga dilangsungkan secara komprehensif dari hulu sampai hilir. Tidak saja untuk internal tetapi juga dimulai dari kandidat-kandidat yang ingin di rekrut. Mengenai hal itu, Schneider memiliki program Schneider Goes To School.  Dalam program ini, perusahaan bekerja sama dengan tiga instansi pendidikan untuk dibina sebagai future employees. “Kita kirimkan guru ke sekolah tersebut, kita buatkan kurikulumnya, bisa magang di tempat kami terlebih dahulu untuk kemudian jika mutu nya bisa konsisten dapat segera kita tempatkan di perusahaan,” terang Joko. “Itu untuk anak-anak STM, tetapi untuk perguruan tinggi kita bekerja sama dengan 14 Universitas seluruh Indonesia dengan menyediakan training centre di tempat mereka,” tambahnya. Dengan program tersebut diharapkan peserta didik dapat mengenal produk-produk dan layanan Schneider sekaligus juga dekat dengan budaya yang ada di perusahaan.

Selain itu, perusahaan juga sering menggelar event-event salah satunya Go Green In The City. Event tersebut merupakan kompetisi kreativitas anak muda untuk membuat anak-anak muda lebih memiliki environment awareness atau kepedulian lebih terhadap lingkungan, lebih go green sebagai dukungan terhadap efisiensi energy. Dari event tersebut perusahaan kemudian dapat mengetahui potensi-potensi dan kreativitas SDM yang ada untuk masuk dalam database perusahaan.

Schneider juga memiliki program bernama Campus Ambassador dimana perusahaan memilih salah satu perguruan tinggi dan menetapkan satu mahasiswa/mahasiswi nya untuk menjadi brand ambassador perusahaan dilingkungan kampus. “Kita pilih yang aktif dalam baik kegiatan-kegiatan perkuliahan maupun kegiatan-kegiatan kampus non perkuliahaan,” tutur Joko.

Tak cukup sampai disitu, ada juga program Young Tallent Program, dimana perusahaan merekrut anak-anak dari perguruan tinggi negeri atau swasta untuk dilakukan management trainee untu mengetahui spesialisasi kemudian dibangun dari awal sebagai proyeksi dari regenerasi perusahaan kedepan.

“Maka jika kita berbicara mengenai pengembangan SDM,kita melakukannya secara dini, cepat memulai, dan yang terpenting bagaimana SDM-SDM kita mampu mengikuti segala perubahan dan tantangan jaman,” tegas Joko. Sebagai tambahan, program untuk anak-anak STM dikhususkan untuk jurusan kelistrikan, namun untuk perguruan tinggi dilangsungkan untuk semua jurusan. “Untuk perguruan tinggi kita open position, karena didalam perusahan tidak hanya engineering tapi kan ada juga finance, marketing, dll,” terang Joko.

Sampai sejauh ini Schneider telah membina lebih dari 1500 siswa dari tahun 2008 sampai sekarang. Tentu jumlah tersebut tidak mampu untuk terserap semua. Joko menyatakan bahwa hal ini sekaligus juga menjadi dukungan serta tanggung jawab perusahaan untuk ikut serta dalam memajukan SDM nasional. “Jadi jika nanti diserap oleh kompetitor kita juga tidak apa-apa, karena ini sudah menjadi komitmen dan tanggung jawab kita,” ungkap Joko.

Hasil binaan tersebut otomatis masuk ke database perusahaan sehingga memudahkan perusahaan untuk melakukan rekruitmen. Dari 1500 siswa didik, Joko mengatakan jika 10% telah terserap oleh perusahaan. 10% yang telah ditetapkan sebagai karyawan tetap, sedangkan yang masih temporary perusahaan telah menyerap sebesar 30% dari jumlah 1500 tersebut.

Untuk teknis mengajarnya, Schneider tak hanya sekedar menempatkan guru di sekolah, tetapi juga mengisi kurikulum yang benar-benar non ekstrakurikuler, bahkan juga menyediakan alat-alat untuk praktikum. Dari kegiatan mengajar tersebut, perusahaan menilai siswa serta memberikan sertifikat. Setelah itu para siswa dapat magang di perusahaan dan juga mendapatkan sertifikat setelah dievaluasi. Dari situ perusahaan mendapatkan spesifikasi dan kriteria untuk ditempatkan dibagian mana.

Competency Review

Di internal SDM atau untuk karyawan yang sudah ada saat ini, Joko mengungkapkan bahwa tetap saja masih ada tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu pembinaan dan pengembangan SDM juga dilangsungkan untuk karyawan yang sudah ada saat ini. Tantangan yang dirasakan saat ini diungkapkan Joko ialah mengenai fleksibilitas dan kecepatan. Di saat jaman berubah semakin cepat, kemudian di saat beban pelanggan yang semakin tinggi dimana dirasakan pelanggan saat ini semakin more demanding. “Kalau dulu ada permintaan, kemudian kita susun penawaran lalu kirim dan besok dijawab. Sekarang satu jam saja kita tidak merespon, pelanggan bisa reminder atau bahkan sudah beralih ke competitor,” ungkap Joko. Maka dari itu perusahaan merasa bahwa fleksibilitas dan kecepatan menjadi sangat penting sekali saat ini untuk dimiliki karyawan. “Urgensi saat ini adalah SDM yang bisa fleksibel waktunya dan cepat responnya,” tukas Joko. “Apalagi saat ini kita melayani global, dimana otomatis perbedaan waktu menjadi tantangan tersendiri,” tambahnya.

Untuk itu perusahaan memiliki sistem berupa respon alert. Dimana segala hal yang tidak terespon selama 1×24 jam akan ternotifikasi baik kepada PIC maupun top manajemen sebagai bahan evaluasi dan penilaian. Sedangkan untuk merubah mindset SDM yang dituntut untuk siap cepat dan fleksibel membutuhkan effort tersendiri. Pertama-tama perusahaan membagi untuk yang menangani ekspor sendiri dan menangani lokal sendiri. Sehingga kemudian perusahaan juga membagi training-nya sendiri, yaitu untuk penanganan ekspor dan penanganan lokal. Dalam training tersebut, tidak hanya diberikan materi untuk mengembangkan hardskill tetapi juga untuk pengembangan softskill-nya.

Perusahaan juga memiliki competency review. Setiap posisi atau jabatan mempunyai job code atau kode jabatan. Kode tersebut menunjukkan kualifikasi apa yang dibutuhkan disetiap jabatan tersebut. Sementara itu, karyawan juga harus mampu menilai dirinya sendiri. Jika karyawan menilai ada salah satu kualifikasi yang belum mampu dipenuhi, maka karyawan tersebut dapat mengajukan pelatihan. Penilaian sendiri tersebut dinotifikasi kepada atasan untuk review penilaian. “Atasan juga memiliki penilaian dan karyawan tersebut juga dapat menilai dirinya sendiri yang kemudian akan diketahui gap-nya seperti apa,” terang Joko. “Kemudian dapat diputuskan butuh program training seperti apa,” tambahnya.

Hardskill and Softskill

Program pelatihan di perusahaan seperti yang dipaparkan diatas dapat berupa hardskill maupun softskill. Hal tersebut didasari oleh kondisi yang dijumpai dilapangan bahwa ketika seseorang memiliki kemampuan teknis yang bagus belum menjamin dia memiliki ledership yang bagus pula. Softskill sendiri dapat didapatkan dari dalam ataupun dari luar atau juga cukup lewat E-learning. Pada dasarnya sebelum mengikuti pelatihan, terlebih dahulu dilakukan lewat E-learning. Untuk itu,perusahaan memiliki Global Supply Chain Academy yang didalamnya memiliki ribuan materi E-learning yang dapat diakses baik lewat mobilephone maupun komputer. Dijelaskan lebih lanjut oleh Joko bahwa setiap E-learning mempunyai assessment-nya dan dapat menghitung berapa jumlah jam belajar yang telah ditempuh. Dari situ saja dapat diketahui apakah karyawan lulus atau tidak. Kemudian juga untuk meningkatkan kemampuan leadership, karyawan yang mengajukan training juga akan mendapatkan mentoring untuk memimpin sebuah project.

Infrastruktur mutu pengembangan SDM yang ada di Schneider yaitu Training Centre untuk meningkatkan skill dan juga untuk memiliki multiskill.  “Pada dasarnya perusahaan mewajibkan setiap karyawan tidak hanya menguasai satu skill saja,” terang Joko. Tujuannya untuk menaikkan level untuk menjadi expert di perusahaan. Kemudian serangkaian sertifikasi yaitu untuk lead auditor dimana  perusahaan memiliki lead auditor di internal perusahaan sendiri, sertifikasi di bidang safety untuk keselamatan dari produk dan layanan yang dihasilkan , kemudian sertifikasi untuk keamanan seperti operator dilapangan untuk mencapai zero accident yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga Kerja. Tak ketinggalan perusahaan memiliki tim L&D (Learning and Development) untuk SDM yang menentukan trainer-trainer untuk memberikan pelatihan. Baik itu trainer dari luar maupun dari internal sendiri. Untuk trainer dari internal dikatakan Joko bahwa pasti harus sudah tersertifikasi dan memiliki dua klasifikasi sekaligus yaitu klasifikasi umum dan klasifikasi khusus. Klasifikasi umum yaitu bagaimana dia mampu berkomunikasi dengan baik, mampu membawa suasana, men-drive orang, dll sedangkan kualifikasi khusus mencakup pengetahuan teknis yang wajib diketahui. Bahkan trainer-trainer dari internal  tersebut juga difungsikan untuk memberikan training-training terhadap customer. “Inilah memang tak hanya sekedar komitmen tetapi juga dedikasi kami akan pengembangan SDM,” tutup Joko.