SNI Ekolabel Melindungi Konsumen Sekaligus Memicu Ekspor

0
50
Inge Setyawati, Business Director PT.Inter Aneka Lestari Kimia (ENVIPLAST)

Jakarta – Aktivitas belanja di kehidupan masyarakat modern tidak bisa lepas dari penggunaan kantong plastik, mulai dari pasar tradisional, toko/warung tradisional, minimarket, supermarket, toko-toko di pusat perbelanjaan, rumah makan, dan berbagai outlet ritel lainnya.

Kantong plastik yang diberikan secara gratis oleh penjual merupakan salah satu nilai tambah, sehingga pembeli dapat pulang membawa hasil belanjaan dengan praktis, mudah dan nyaman. Masyarakat tidak menyadari bahwa kenyamanan yang dinikmati tersebut harus dibayar mahal oleh lingkungan. Menurut Greeneration Indonesia, setiap orang Indonesia memakai kantong plastik hingga 700 lembar per tahun, atau total 100 milyar lembar per tahun.

Dampak negatif terhadap lingkungan ditimbulkan sejak awal proses pembuatan kantong plastik dari bahan baku minyak bumi yang merupakan non-renewable resources, kebutuhan energi yang tinggi dan pencemaran udara, hingga penanganan sampah kantong plastik.

Pemakaian kantong plastik dalam jumlah sangat besar, mengakibatkan sampah kantong plastik menggunung dan berserakan di lingkungan tanah maupun air, padahal bahan plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai di alam.

Dalam proses penguraiannyasampah plastik sangat mencemari tanah dan air, sehingga membahayakan kehidupan makhluk hidup. Jakarta sebagai Ibukota Indonesia menjadi tolok ukur bagi daerahdaerah lain. Dinamika Jakarta yang lebih maju dapat menjadi acuan dari berbagai sisi.

Salah satunya dalam menyikapi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Sebagai kota yang menjadi pusat pemerintahan diharapkan ada regulasi pemerintah pusat yang dapat diadaptasi oleh peraturan daerah yang tepat untuk menciptakan solusi pengurangan sampah plastik.

Saat ini sudah ada standar SNI untuk kategori produk tas belanja plastik dan bioplastik mudah terurai. Produk kantong berlabel SNI seperti ini sudah tersedia bagi konsumen Indonesia dan diproduksi oleh perusahaan lokal yang memanfaatkan bahan baku tepung singkong untuk produksi kantong ramah lingkungannya.

Kantong ENVIPLAST sudah 41 SUCCESS STORY mengikuti perkembangan teknologi dan jaman, baik dari sisi bahan baku, formulasi, proses , mesin, quality control, standar produk, sistem informasi dan komunikasi.

Inge Setyawati, Business Director PT.Inter Aneka Lestari Kimia (ENVIPLAST) berharap, melalui standar standar yang ditetapkan dalam SNI dapat meningkatkan kualitas produk buatan Indonesia sehingga mampu berkompetisi dengan produk impor dan juga bisa meningkatkan daya tarik perusahaan.

Di luar negeri untuk mengimpor produk buatan juga bisa meningkatkan daya tarik perusahaan diluar negeri untuk mengimpor produk buatan Indonesia serta mengurangi produk impor masuk ke Indonesia.

“Kami berharap agar BSN mengikuti perkembangan standar diluar negeri sebagai referensi untuk me-review dan menyusun SNI. Diharapkan SNI bisa diterima di dunia internasional,” terangnya.

Produk Enviplast juga sudah berserifikasi Ekolabel oleh KLHK sebagai tas belanja bioplastik mudah terurai. Dan perusahaan ini target kedepan penjualan meningkat 3 kali dibanding tahun lalu. “Diakhir tahun 2019 memiliki 15 production partner dilokal dan 10 diluar negeri,” jelas Inge.

Inge juga menegaskan jika kesadaran masyarakat Indonesia perlu segera dibangun dari berbagai aspek, mulai dari aspek regulasi pemerintah dari tingkat nasional sampai di tingkat daerah mengenai pembatasan penggunaan kantong belanja plastik, pemilihan kantong yang ramah lingkungan, perbaikan sistem waste management dan perubahan perilaku konsumen.

“Agar penerbitan regulasi pemerintah tersebut berhasil Inge Setyawati, Business Director PT. Inter Aneka Lestari Kimia (ENVIPLAST) dibuktikan tidak mengandung plastik polyolefin dan sangat tepat jika digunakan sebagai produk pengganti kantong belanja plastik.

Kantong ENVIPLAST telah digunakan oleh toko-toko, hotel, perusahaan F&B dan korporasi nasional yang peduli terhadap pelestarian lingkungan dan turut aktif mengurangi sampah plastik. Diharapkan semakin banyak perusahaan dan pihak peritel yang bersedia mengganti kantong belanja plastik dengan jenis kantong biodegradable ENVIPLAST.

Menerapkan standar kualitas dan servis merupakan kunci untuk unggul dalam persaingan bisnis sehingga dapat memasok produk berkualitas yang konsisten dengan tingkat layanan yang baik. Disamping itu, menghasilkan produk yang cost efficient menjadi makin penting di era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, sehingga perusahan juga harus fokus pada operation excellence.

Untuk menghadapi persaingan, ENVIPLAST harus bisa beradaptasi dengan perubahan sehingga menjadi yang terdepan di antara perusahaan sejenis, mahir menangkap dan memanfaatkan peluang, mampu mengidentifikasi resiko bahaya terhadap kelangsungan bisnis perusahaan dan mengatasinya.

Selanjutnya dalam implementasinya, perlu dibarengi dengan kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai waste management serta ketersediaan pilihan kantong ramah lingkungan,” jelas Inge.

“Masyarakat perlu memahami perbedaan antara jenis kantong belanja plastic dengan kantong ramah lingkungan yang direkomendasi oleh pemerintah, dari segi karakteristik, cara penggunaan, dan metode pengelolaan sampahnya,” tutupnya