Carut Marut Distribusi Pupuk Bersubsidi di Balik Halusinasi Swasembada

0
109

Idris Harsono, petani muda Kab.Karanganyar,  mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi. Jika ketersediaan pupuk saja langka, jangan berharap target swasembada beras terwujud, masalah klasik yang terus terulang. Miris !

Jakarta – Kelangkaan pupuk bersubsidi di sejumlah wilayah Jawa Tengah sudah menjadi keluhan di medio Januari
2020. Tercatat, Pengawas Kelompok Pengawas Kelompok Tani di Desa Blorong, Jumantono, Tukino menyatakan awal masa tanam (MT) pertama pupuk langka dan harga melambung di atas harga eceran tertinggi (HET), seperti Za harga normalnya Rp70 ribu menjadi Rp95 ribu dan Urea harga normal Rp90 ribu menjadi Rp115 ribu.

Hal serupa terjadi di Kecamatan Jumantono di Desa Blorong dan Genengan. Desa Mojoroto Kecamatan Mojogedang dan Desa Kalijirak Kecamatan Tasikmadu.

Kelangkaan pupuk subsidi juga dirasakan oleh para petani di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Wilayah lain yang mengalami kelangkaan adalah Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang dan sekitarnya, Jawa Tengah. Kelangkaan pupuk subsidi sudah dialami sejak Desember 2019 hingga sekarang. Derita serupa dialami petani di Kabupaten Demak, Desa Pegalongan, harga pupuk bahkan menembus Rp 120 rb.

Meski demikian, Qualitizen mencatat bayang-bayang permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi sebenarnya sudah tercermin dari volume pupuk subsidi terus berkurang. Jika selama ini pupuk subsidi dialokasikan sebanyak 9,55 juta ton, maka tahun 2019 turun menjadi 8,6 juta ton. Tahun 2020 alokasi turun lagi menjadi 7,9 juta ton.

Terlebih, adanya keterlambatan- mundurnya pedoman penyaluran pupuk bersubsidi di tahun 2020. Seharusnya pedoman penyaluran pupuk bersubsidi sudah keluar satu bulan sebelum pergantian tahun.

Sementara itu, berbeda informasi dari pihak produsen. PT Petrokimia Gresik untuk menghadapi musim tanam Oktober 2019 – Maret 2020, mengatakan untuk wilayah Jawa Tengah menyalurkan 4 jenis pupuk bersubsidi. Yaitu ZA, SP-36, NPK
Phonska dan Petroganik. Sedangkan untuk pupuk Urea disuplai dari PUSRI. Total alokasi hingga 4 Oktober 2019 sebanyak 615.355 ton.

Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi tersebut sebanyak 621.474 ton. Sedangkan stoknya sebanyak 98.989 ton. Sudah 101 persen (pupuk bersubsidi dari PT Petrokimia Gresik) tersalurkan di Jateng.
Artinya menyambut musim tanam Okmar (Oktober – Maret 2019-2020) ini hampir mustahil kalau dikatakan pupuk langka.

PT Petrokimia Gresik menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi menyambut musim tanam Oktober 2019- Maret 2020 ini. PT Petrokimia Gresik menyiapkan stok sebanyak 787.280 ton atau 4 kali lipat dari
ketentuan minimum pemerintah sebanyak 188.018 ton. Rinciannya, pupuk Urea sebanyak 47.776 ton, ZA sebanyak 138.690 ton, SP-36 sebanyak 197.814 ton, NPK Phonska sebanyak 342.834 ton dan Petroganik sebanyak 60.168 ton.

Apabila mencermati paparan data, dapat disimpulkan sebenarnya terdapat kepercayaan diri yang kuat atas kemampuan pemerintah menyediakan pupuk bersubsidi. Meski demikian, kue manis yang disajikan dan siap untuk dimakan bersama belum tentu dapat dimakan oleh petani, kenyataan pahit mereka kesulitan mencari kue manis tersebut bahkan remah-remahnya pun tak dapat ! Kalaupun ada kue manis
yang sudah menjadi haknya dibeli dengan harga melipat.

Pahit memang tetapi itulah realita, harus diakui realita ini terjadi berulang-ulang, entah sampai kapan harus berganti pemerintahan untuk urusan pupuk bersubsidi saja terasa sulit menyelesaikan, bukan perkara mudah memang tetapi itulah guna pemerintah memiliki segenap perangkat kekuasaan untuk mengatur pendistribusian pupuk bersubsidi di setiap daerah agar distribusinya benar-benar tepat waktu dan tepat sasaran serta tidak ada kasus penyalahgunaan pupuk bersubsidi, penyakit yang selalu kerap
terjadi.

Bulan Oktober hingga Januari suara mereka terbenam, hanya dapat mengeluh atas ketersediaan pupuk bersubsidi. Kegembiraan menyambut hujan, memulai masa awal tanam, terbayang padi menguning hasil jerih payah terbayar hanya fatamorgana di setiap pukulan pacul menghujam tanah.

Biasanya, ya biasanya seperti yang sudah-sudah akan muncul sosok pahlawan pemilik kuasa, menghujam kegagapan dari keruwetan yang berulang. Bagi saya sudahlah petani sudah bosan, keledai
saja tak mau jatuh di lubang yang sama. Mereka hanya butuh kue manis tersedia dan bukan pahlawan yang datang tiba-tiba memberikan dahaga. Jangan berbicara membumbung tinggi, mengulang mimpi
kejayaan swasembada beras dan pangan, jika urusan membumi saja belum sanggup di daki.

Penulis : Rahayu Setiawan
Redaktur Eksekutif Qualitizen